SEMAI
SEMAI
Oleh : Putri Dana Zahron
Jum’at 28 Desember 2007. Mungkin tanggal tersebut tampak biasa saja bagi banyak orang. Namun tidak dengan sepasang suami istri yang pada hari itu menyambut kehadiran sang putri bungsunya ini ke dunia. Hari itu menjadi awal dari sebuah perjalanan panjang yang dipenuhi segala harapan, do’a, dan kasih sayang. Untuk pertama kalinya saya merasakan hangatnya pelukan dari kedua orang tua, untuk pertakalinya saya mendengar suara manusia, dan menjadi pusat kebahagian keluarga besar. Satu per satu do’a dipanjatkan, berharap agar sang putri bungsu ini dapat tumbuh menjadi pribadi yang baik, kuat, dan bermanfaat bagi sesama.
Hari demi hari, bulan demi bulan, hingga tahun demi tahun waktu berlalu layaknya cahaya. Putri bungsu yang dahulu hanya dapat menangis kini telah tumbuh menjadi sosok remaja yang mengenal banyak hal tentang kehidupan. Masa remaja yang mempertemukan saya dengan berbagai pengalaman baru, tantangan baru, dan pelajaran-pelajaran yang tidak selalu di dapatkan ketika pembelajaran kelas.
Pandemi Covid-19 mungkin sudah tidak asing bagi sebagian orang. Masa dimana semua serba terbatas. PHK masal sehingga terjadi lonjakan angka pengangguran serta kemiskinan. Sistem pembelajaran jarak jauh yang memicu tantangan akademis. Bahkan berita kematian yang tiada henti-hentinya. Dunia sibuk mancari solusi sehingga hidup pun dipenuhi rasa cemas, khawatir, sedih. Saat itu saya duduk sebagai siswa baru di sekolah menengah pertama saya, sulit sekali bagi saya dimasa itu untuk memahami pembelajaran bahkan untuk mencari teman sekalipun membutuhkan jangka waktu yang sangat panjang.
Disaat teman-teman saya sudah saling akrab satu sama lain saya masih merasa begitu sungkan untuk bergabung dengan yang lain. Mungkin salah satu factor penyebab terjadi nya hal itu adalah saya yang pemalu, insecure, dan merasa tidak akan ada yang mendengarkan saya padahal faktanya tidak seperti itu. Tantangan terbesar saya adalah membuat kelompok, dimasa itu saya bahkan belum mengenal satu seorang pun teman kelas. Alhasil dengan segala keberanian yang saya kumpulkan, saya pun menghubungi satu per satu dari mereka untuk dijadikan teman kelompok. Pengalaman ini yang membuat saya ingin mencoba hal baru walaupun saat itu saya belum berani dan belum berkesempatan untuk mengikuti OSIS di sekolah.
Sebagai pengganti tidak mengikuti OSIS saya mencoba mengikuti salah satu ekskul palang merah remaja. Saya mengikuti ekskul pertama saat saya sudah duduk dikelas delapan. Saya selalu semangat mengikuti setiap kali diadakan kumpul untuk latihan pertolongan pertama maupun praktik terkait penanggulagan atau antisipasi bencana. Pada awalnya semua berjalan baik-baik saja hingga saya duduk dikelas Sembilan atau kelas tiga sekolah menengah pertama. Saya merasa bahwa tidak ada yang berubah dari diri saya sifat pemalu saya yang masih terus saya bawa, semangat yang dahulu membara lambat laun mulai padam dan pula dikarenakan kesibukan saya dikelas sembilan yang dipenuhi dengan pelbagai macam ujian.
Banyak hal yang saya usahakan supaya diterima di sekolah menengah atas negeri. Mulai dari ekskul, mengikuti bimbingan belajar diluar yang menghabiskan biaya banyak, hingga ujian yang terus saya usahakan sempurna. Tetapi apakah hal tersebut cukup?, nyatanya hal tersebut saja tidak cukup untuk diterima di sekolah negeri, pengalaman kejuaraan juga menjadi salah satu yang dipertimbangkan oleh pihak sekolah. Saya bersaing dengan begitu banyak siswa hampir lebih dari lima puluh orang. Dan mereka tidak hanya dari satu atau dua sekolah saja tetapi lebih atau dapat dikatakan seluruh kota, dengan berbagai prestasi dari individu siswa yang mendaftar. Sudah dipastikan sangat mustahil bukan, hanya kurang beberapa menit penutup nama saya sudah berada diposisi paling akhir dan kemudian menghilang yang menandakan bahwa saya tidak diterima atau ditolak.
Pengalaman itulah yang membuat saya memutuskan untuk bersekolah di sekolah menengah kejuruan. Hari pertama masuk sekolah saya melihat terdapat perbedaan dari sekolah lain. Banyak nama yang tidak akrab ditelinga saya mulai dari Ipm, lalu nama kegiatan masa pengenalan lingkungan sekolah yang sangat unik yaitu fortasi, dan uniknya ipm terdapat tingkatan semua itu adalah hal yang baru saya temui ketika fortasi.
Saya menjalani kehidupan layaknya siswa pada umumnya. Setiap hari saya datang ke sekolah, mengikuti pelajaran, mengerjakan tugas, lalu pulang ke rumah. Hari-hari berjalan dengan pola yang hampir sama tanpa banyak hal yang membuat keluar dari zona nyaman. Saat itu saya mengira bahwa masa sekolah saya akan terus berjalan seperti itu hingga kelulusan tiba. Namun, sebuah kegiatan yang awalnya saya anggap biasa justru menjadi titik awal perubahan dalam hidup. Ketika mengikuti PKDTM I yang diwajibkan oleh sekolah, saya melihat sesuatu yang berbeda. Saya melihat para anggota ipm bekerja dengan penuh tanggung jawab. Mereka mengatur jalannya acara dengan rapi, sigap, dan terlihat memiliki tujuan yang jelas. Saat itulah untuk pertama kalinya saya mulai tertarik mengenal dunia organisasi.
Tidak hanya melihat bagaimana mereka bekerja, saya juga mendapatkan materi mengenai ipm. Entah mengapa, ada perasaan yang sulit dijelaskan saat mendengarkannya. Seolah ada sesuatu yang memanggil untuk mencoba hal baru yang sebelumnya tidak pernah terpikirkan. Rasa penasaran itu terus tumbuh hingga akhirnya saya memberanikan diri mendaftarkan diri pada Open recruitment ipm. Setelah menyerahkan persyaratan, hal yang selanjutnya saya lsayakan adalah mengikuti wawancara. Wawancara adalah kegiatan yang sangat saya takuti dan dipenuhi kecemasan akan hal diterimanya saya sebagai pengurus atau saya tidak diterima. Setelah pelbagai penolakan yang saya dapatkan dan tiba saat nya pengumuman kabar baik yang saya terima adalah ternyata saya diterima.
Saya menikmati setiap proses yang ada di dalamnya. Namun perjalanan tersebut tidak selalu berjalan mulus. Ada satu hal yang sering membuat saya kecewa terhadap diri sendiri, yaitu kemampuan saya berbicara di depan banyak orang. Bahkan ketika hanya berbicara di hadapan teman-teman IPM, saya masih sering merasa gugup. Kata-kata yang ingin saya sampaikan terkadang terasa berantakan. Kalimat yang keluar dari mulut sering kali tidak mampu menggambarkan apa sebenarnya yang ingin disampaikan. Saya melihat teman-teman lain mampu berbicara dengan percaya diri, sementara saya masih berjuang melawan rasa takut dalam diri sendiri.
Namun di balik kesulitan itu, saya menemukan kesempatan untuk berkembang. Dalam setiap kegiatan yang akan kami laksanakan, pasti seminggu atau 3 hari sebelum nya ada sesi yang kami sebut tot (training of trainer). Pada sesi tersebut, para senior memberikan berbagai materi yang bermanfaat. Tidak jarang kami juga ditunjuk secara langsung untuk menyampaikan pendapat atau menjelaskan kembali materi yang telah diberikan. Awalnya saya sangat takut ketika mendapat giliran. Jantung berdebar kencang dan pikiran terasa kosong. Akan tetapi, semakin sering saya mengikuti tot, semakin saya menyadari bahwa keberanian bukan berarti seseorang tidak memiliki rasa takut, melainkan karena kita tetap mencoba meskipun merasa takut. Perlahan-lahan saya mulai terbiasa berbicara di depan orang lain. Saya belajar menyusun kalimat dengan lebih baik, menyampaikan pendapat dengan lebih percaya diri, dan menerima kesalahan sebagai bagian dari proses belajar. Meskipun saya belum menjadi orang yang paling pandai berbicara, setidaknya saya sudah jauh lebih berani dibandingkan diri saya yang dulu.
Seiring berjalannya waktu, ipm bukan lagi sekadar organisasi bagi saya. ipm telah menjadi tempat saya bertumbuh, belajar, dan menemukan banyak hal tentang diri sendiri. Dari organisasi ini saya belajar tentang tanggung jawab, kerja sama, kepemimpinan, dan keberanian untuk mencoba hal-hal baru. Saya juga menemukan banyak teman, pengalaman, serta kenangan yang mungkin tidak akan pernah saya dapatkan jika hanya menjalani kehidupan sekolah seperti biasa. Sering kali kami menghabiskan waktu bersama hingga malam hari untuk mempersiapkan sebuah kegiatan. Rasa lelah tentu ada, tetapi kebersamaan yang tercipta membuat semua itu terasa berharga. Tanpa disadari, tempat yang awalnya hanya membuat saya penasaran kini telah menjadi bagian penting dari perjalanan hidup saya.
Jika seseorang bertanya apa yang paling berharga yang saya dapatkan dari ipm, jawabannya bukanlah jabatan atau pengalaman organisasi semata. Hal paling berharga yang saya dapatkan adalah keberanian untuk berkembang menjadi versi diri saya yang lebih baik. ipm mengajarkan saya bahwa setiap orang memiliki kesempatan untuk bertumbuh, selama ia berani mengambil langkah pertama dan tidak menyerah pada prosesnya. Seseorang tumbuh dan berkembang pasti datang dari kegagalan yang sudah dilaluinya sehingga mental yang dimiliki membuatnya tegar.
Saya mungkin belum menjadi pribadi yang sempurna, tetapi saya percaya bahwa setiap proses yang saya jalani hari ini adalah bagian dari semai yang kelak akan tumbuh menjadi versi terbaik diri saya.